Editorial

KEHAUSAN HATI KITA

Kita semua memiliki kehausan tidak hanya pada air minum tetapi akan kasih, perhatian. Dalam Pembaptisan kita telah menerima kasih Allah dengan Roh Kudus yang tetap diam dalam hati kita. Tuhan mengetahui bahwa hati manusia selalu haus. Tetapi sadarkah kita bahwa ada kehausan dalam hati kita, bukan hanya untuk makan dan minum enak, untuk hidup mewah, tetapi juga untuk mendapat damai di hati, untuk hidup rukun dan nyaman? Itulah disediakan Tuhan tiap hari bagi kita, asal kita pun minta kepada-Nya: Berilah kami air hidup ini.




TENTANG JIWA ORANG MENINGGAL YANG DIKREMASI PDF Print E-mail
Thursday, 02 June 2011 16:38

TENTANG JIWA ORANG MENINGGAL YANG DIKREMASI

 

Pertanyaan dikirim dari +6281335788... : Saya mau tanya KREMASI. Bagaimana orang meninggal yang dikremasi, tidak di kubur?

Sejak 1963 Gereja Katolik melalui Konggregasi Suci tentang Ajaran Iman membuka kemungkinan untuk kremasi sejauh tidak dilaksanakan dengan alasan yang bertentangan dengan ajaran Kristiani, misalnya: seorang yang ingin dikremasi karena mau menunjukkan ketidakpercayaannya pada kebangkitan badan. Pada masa awal Gereja memang melarang orang melakukan kremasi. Alasan utama pada masa-masa awal, Gereja tidak memperbolehkan kremasi karena begitu banyak praktek kremasi dari para “kafir” dan juga “freemasons” yang mengkremasi orang yang meninggal. Apabila jemaat Kristen awal dijinkan mengkremasikan tubuh orang yang meninggal dikhawatirkan bisa mengikuti jejak para kafir dan freemasons, yang tidak percaya akan kebangkitan badan.

Sikap Gereja Katolik sekarang sebagaimana tercermin dalam Kitab Hukum Kanonik KHK 11176 § 3. “Gereja menganjurkan dengan sangat, agar kebiasaan saleh untuk mengebumikan jenazah dipertahankan; namun Gereja tidak melarang kremasi, kecuali cara itu dipilih demi alasan-alasan yang bertentangan dengan ajaran kristiani.“Tentang jiwa manusia bersifat kekal, pada saat penghakiman terakhir akan bersatu kembali dengan badan. Katekismus (1016) mengatakan “Oleh kematian, jiwa dipisahkan dari badan; tetapi dalam kebangkitan, Allah akan memberi kehidupan abadi kepada badan yang telah diubah, dengan mempersatukannya kembali dengan jiwa kita. Seperti Kristus telah bangkit dan hidup untuk selamanya, demikian juga kita semua akan bangkit pada hari kiamat.” Jadi apakah yang dibangkitkan adalah tubuh rohani atau fana, maka lebih tepatnya adalah “badan yang telah diubah” atau “glorious body“, seperti yang dialami oleh Kristus pada saat kebangkitan-Nya. Dalam kondisi ini, Maria Magdalena tetap mengenali Kristus, namun dalam keadaan yang telah dimuliakan.

Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: “Bagaimanakah orang mati dibangkit-kan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali karena badan mereka telah di kremasi?” Paulus menjawab pertanyaan ini melalui 1 Kor 15:35-54 : ”Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu. Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain. Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri. Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan. Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi....”