TINGGAL DALAM TUBUH DAN DARAH KRISTUS

tubuh-yesus

Luk 9:11b-17

Pada masa Perjanjian Lama, Allah mengikat Israel dengan suatu perjanjian di Gunung Sinai. Nabi Musa, sebagai penghubung antara Allah dan kaum Israel, mempersembahkan korban dan memerciki mezbah dengan darah binatang sebagai meterainya (Kel 24). Apa yang terjadi kemudian? Perjanjian Lama ini dinodai dan putus oleh ketidaksetiaan umat Israel.  Yesus kemudian datang dengan membawa Perjanjian Baru. Sesuai dengan namanya, pada hakekatnya isi Perjanjian Baru adalah hubungan baru yang dinyatakan Allah dalam tubuh dan darah Anak-Nya. Perjanjian Baru mengangkat semua manusia menjadi anak Allah yang ditandai dengan korban tubuh dan darah Sang Anak Allah sendiri.

Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus ini Gereja mengenangkan pengorbanan Tuhan sendiri. Inisiatif mengagumkan dari Allah ini tentu akan bertepuk sebelah tangan jika kita bertindak serupa seperti Israel lama yang nyaman berkubang dalam kesalahan dan menikmati kemerosotan moral. Injil Minggu ini menggambarkan bagaimana Allah menggandakan lima roti dan dua ikan sampai para pengikutNya kenyang. Hal ini merupakan antisipasi terhadap pengorbanan Yesus ketika Ia menyerahkan tubuhNya sendiri dalam perjamuan terakhir. Sekarang Ia mempergandakan tubuhNya sendiri untuk kita santap saat komuni kudus supaya Ia selalu tinggal dalam diri kita.

Pertanyaannya adalah: Apakah kita tega membuat pengorbanan tubuh dan darah Kristus menjadi sia-sia? Lalu apa yang kita sudah lakukan dengan tubuh kita sendiri? Apakah dengan mengotorinya lewat laku yang salah? [DWO]