MENJUAL CINCIN KAWIN, DOSA SIMONI?

nikah

Pertanyaan dikirim oleh +62813XXXX9589: Membaca kolom Ajaran Gereja Menu Cornelius nomor XI-24 : Uraian  10 Perintah Allah bagian 8, terutama penjelasan bagian dosa simoni. Orang akan  berdosa bila menjual-belikan barang-barang rohani yang sudah diberkati/ditahbiskan. Menjual cincin kawin yang jelas sudah diberkati, apakah termasuk dosa Simoni?

Simoni adalah suatu tindakan memperlakukan harta rohani Gereja sebagai barang dagangan. Yang termasuk dosa Simoni, misalnya menjual atau membeli jabatan Gerejawi atau sakramen. Nama Simoni diambil dari tukang sihir yang bernama Simon yang ingin membeli dari Petrus dan Yohanes kekuasaan untuk memberikan Roh Kudus (Kis 8: 9-25), Simoni merupakan hidup dan wajah Gereja, dan sudah selalu dikutuk oleh Gereja. Dalam hukum Gereja diatur dalam KHK 149, 188, 1380.

Memang cincin kawin dalam sakramen perkawinan sudah diberkati, namun, fungsi cincin dalam sakramen itu, bukan tanda utama (marteria sakramen), cincin sebagai tanda kesetiaan tidak bersifat mutlak, mempelai tetap dapat mengesahkan perkawinannya tanpa cincin perkawinan. Upacara pengenaan cincin dalam upacara perkawinan bersifat fakultatif, dilaksanakan baik, tidak dilakukan juga tidak mengakibatkan tidak sahnya perkawinan. Dengan demikian, bila pasangan suami isteri, sudah berada pada pilihan terakhir, tidak ada alternatif lain dalam mencukupi kebutuhan ekonominya, artinya, itu jalan satu-satunya, maka, setelah berkonsultasi dengan imam, dapat menjualnya. Lalu, pada kesempatan lain, mereka dapat membeli cincin yang baru dan memberkatkannya kepada imam. Pada umumnya dilakukan pada hari ulangtahun perkawinan, atau hari penting dalam keluarga, atau kesempatan yang dipandang tepat dengan disertai pembaharuan janji perkawinan.

Keutamaan yang perlu dijunjung tinggi ketika pasangan suami-isteri menghadapi masalah ekonomi yang berat, sehingga harus merelakan cincin kawin yang sudah diberkati terpaksa dijual, yang terpenting bahwa keduanya sudah mencapai kesepakatan, bukan dilakukan sepihak oleh suami, atau isteri saja. Dosa simoni lebih mengatur pelanggaran komersialisasi harta rohani Gerejawi yang bersifat publik (umum), seperti pelayanan sakramen, jabatan Gerejawi, kesucian tempat-tempat ibadat, seperti gedung gereja, tempat ziarah, dsb. Simoni bukan pertama-tama barang-barang rohani perseorangan. Cincin kawin termasuk kategori barang-barang rohani bersifat perseorangan.  [SHD]