DALAM NAMA BAPA, PUTERA, ROH KUDUS

tri-tnggal

Yoh 16:12-15

 Pada masa Perjanjian Lama, Israel diikat oleh perjanjian dengan Allah. Allah akan menjadi Allah mereka dan umat Israel menjadi umatNya (Ul 4). Perjanjian ini putus oleh ketidaksetiaan umat Israel, dan Yesus membuat Perjanjian Baru dengan umatNya dengan menyertai kita sampai akhir zaman. Allah yang setia pada akhir zaman ini berkenan untuk dikenali manusia. Yesus memperkenalkanNya sebagai Allah Bapa, Putera, Roh Kudus (Mat 28:19). Gereja dipersatukan dalam babtisan yang sama, yakni dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.

Allah yang mengejawantah dalam tiga pribadi ini sering menjadi bahan serangan dan olok-olokan bagi kita. Kita sering dikatakan sebagai umat yang menyembah tiga allah, penganut politheisme, dll. Kita pun sering terpancing dan kehabisan energi untuk membalas serangan tersebut, akan tetapi sebenarnya apakah inti perwahyuan Allah Tritunggal ini?

Satu, dua, atau tiga Allah dalam arti ini tentu tidak menyoal urutan, tingkatan, atau bilangan. Jika kita mengimani bahwa hukum terbesar adalah kasih, dan Allah adalah Sang Kasih itu sendiri (God is Love), artinya relasi Tritunggal adalah relasi kasih itu sendiri! Mengimani Allah Tritunggal (dan dibabtis dalam nama Bapa, Putera, Roh Kudus) berarti undangan bagi umat beriman untuk memasuki relasi kasih Allah sendiri. Konsekuensinya, hidup kita sendiri pun harus mencerminkan kasih. Kasih kepada Allah hanya bisa tampak dari kasih kita kepada keluarga, anak-isteri-suami, orang yang miskin, tersingkir, tertindas, dan bukan justru menjadi pengingkar kasih. [DWO]