Refleksi atas Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia 2016

komunikasi-2016

DEWAN Komunikasi Sosial Kepausan telah mengumumkan tema Hari Komunikasi Sedunia 2016, yaitu Komunikasi dan Kerahiman: Perjumpaan yang Memerdekakan.

Hari Komunikasi Sedunia dicanangkan oleh Paus Paulus VI setelah Konsili Vatikan II untuk mendatangkan perhatian akan adanya “fenomena luas dan kompleks dari berbagai sarana modern komunikasi sosial.”

Tema tahun ini diputuskan bertepatan dengan Tahun Jubelium Kerahiman Ilahi, Tahun Kudus yang diserukan oleh Paus Francis untuk mengumumkan rahmat Allah.

Pilihan tema tahun ini diinspirasi oleh Jubelium Agung Kerahiman, dan Bapa Suci menghendaki agar Hari Komunikasi Sedunia dapat menjadi kesempatan yang tepat untuk merefleksikan sinergi yang mendalam antara komunikasi dan kerahiman.

Dalam “Bull of Indiction of the Jubillee Year” paragraf 12 Paus menegaskan bahwa: Gereja ditugaskan untuk memberitakan rahmat Allah, detak jantung dari Injil, yang dengan caranya sendiri harus merasuk ke dalam hati dan pikiran setiap orang. Bapa Suci melanjutkan: bahasanya dan gerakannya harus mengirimkan rahmat/belas kasih, sehingga dapat menyentuh hati semua orang dan menginspirasi mereka untuk menemukan jalan yang mengarah kepada Bapa. Dalam hal ini, adalah bermanfaat untuk mengingat bahwa refleksi kita terletak dalam konteks kesadaran akan pentingnya komunikasi sebagai elemen kunci untuk memajukan/mendukung budaya pertemuan/perjumpaan.

Bapa Paus pada kesempatan ini mengacu pada bahasa dan gerak tubuh Gereja, namun konteksnya adalah jelas bahwa semua pria dan wanita dalam komunikasi mereka, dalam upaya mereka menjangkau orang lain untuk bertemu, seharusnya termotivasi oleh ekspresi yang mendalam akan penyambutan, ketersediaan dan pengampunan.

Tema kali ini menyoroti kemampuan komunikasi yang baik dalam membuka ruang dialog, menumbuhkan saling pengertian dan rekonsiliasi, sehingga memungkinkan pertemuan antar manusia yang membuahkan hasil. Pada saat perhatian kita sering tertarik pada banyaknya komentar di media/jaringan sosial yang terpolarisasi dan bersifat menghakimi, tema ini mengharapkan kekuatan kata-kata dan gerak tubuh untuk mengatasi kesalahpahaman, untuk menyembuhkan kenangan buruk, serta untuk membangun perdamaian dan kerukunan.

Sekali lagi Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa pada intinya, komunikasi merupakan pencapaian manusia yang mendalam. Komunikasi yang baik tidak pernah hanya merupakan produk dari teknologi terbaru atau tercanggih, namun diwujudkan dalam konteks hubungan interpersonal yang mendalam.

Gereja Katolik Indonesia, melalui Komisi Komunikasi Sosial KWI akan menerjemahkan pesan Bapa Suci untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang akan dipublikasikan 24 Januari setiap tahun.

Pesan Bapa Suci akan dipelajari oleh Tim Komsos KWI untuk menemukan nilai-nilai utama yang disampaikan Paus Fransiskus. Dilanjutkan dengan penyusunan naskah film pendek, bahan katekese, buku panduan misa Minggu Komunikasi, poster, banner. Semua bahan animasi ini akan didistribusikan ke keuskupan-keuskupan pada bulan Maret 2016.

Hari Komunikasi Dunia, satu-satunya perayaan di seluruh dunia yang dicanangkan oleh Konsili Vatikan II (“Inter Mirifica”, 1963), dirayakan di banyak negara atas rekomendasi dari para uskup dunia pada hari Minggu sebelum Pentakosta, yang untuk tahun 2016 jatuh pada tanggal 8 Mei. (SA)

Dikutip dari http://www.mirifica.net/