RD. ALOYSIUS ARATIA WARDHANA

romo-arie

Merbabu, Ajuna, Rinjani, Tambora,, Lawu, Welirang dan masih banyak lagi gunung yang telah didaki oleh Imam muda ini. Hoby naik gunung ini muncul ketika lulus SMA tahun 1991. Welirang merupakan gunung pertama yang didaki bersama teman-temannya di SMA. Ketenangan, keagungan dan kekokohan gunung menjadikan batin lebih tenang. Pemandangan indah di puncak gunung menjadi imbalan susah payah kala mendaki.

Menjelang ulang tahun Imamat yang kesepuluh direncanakan untuk mendaki Gunung Kerinci bersama teman – teman dan kaum muda yang ingin bergabung. Tentu saja dengan catatan : BDD artinya Bayar Dewe – Dewe (Bayar Sendiri- sendiri) semua biayanya. Selain naik gunung Romo yang lucu ini juga gemar bersepeda, olah raga dan membaca buku. Baginya tiada waktu tanpa membaca.

Terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara dengan nama Aloysius Aratia Wardhana ( yang berarti “mensucikan”) dari pasangan FX. Winardi (TNI AL) dan Rosamaria Rosmiati empat puluh tiga tahun lampau ini menjalani pendidikan Postulat di Stella Maris tahun 1997, menamatkan pendidikan S-2 di STFT Widya Sasana Malang tahun 2006, menerima tahbisan Diakon 23 Pebruari 2006 di Keuskupan Agung Malang dan menerima tahbisan Imamatnya dari Mgr. Ignatius Suharyo pada Rabu, 30 Agustus 2006 di Gereja Santo Yakobus Surabaya. RD. Aloysius Aratia Wardhana akrab disapa dengan Romo Arie.

“Adem, Ayem, Tentrem“ merupakan motto hidup Romo Arie, sedang motto Tahbisan yang dipilih adalah “Kami adalah hamba – hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan “ (Luk 17: 10). Agaknya motto hidup dan motto Tahbisan yang dipilih sesuai dengan perjalanan hidup Romo Arie yang cenderung menyukai ketenangan, ketentraman, menghindari konflik dan kepasrahan total pada Allah dalam menjalani kehidupan.

Tugas pertama Romo Arie di Paroki Gonzaga Surabaya tahun 2006 – 2007, dilanjutkan di Paroki Sakramen Maha Kudus, Pagesangan tahun 2007 – 2010, Paroki Santo Yusup, Karangpilang tahun 2010 – 2013, Paroki Santa Maria, Jombang tahun 2013 – 2015, dan Paroki Santo Cornelius, Madiun mulai 2 Nopember 2015 dengan tugas sebagai Pastor Rekan. Romo Arie juga dipercaya menangani Komisi Karya Misioner mulai tahun 2007 – 2008, komisi REKAT dan BIAK tahun 2007 – 2010.

Romo Arie melihat ada satu hal mendesak di bidang Liturgi untuk segera diperbaiki. Contoh kecilnya soal lagu Anak Domba Allah dan Alleluya sebelum pembacaan Injil Suci. yang seharusnya dimulai atau dinyanyikan oleh umat bukan imam. Perbaikan selalu disosialisasikan dalam setiap misa baik misa harian maupun misa minggu yang dipimpinnya. “Liturgi sangat penting, maka harus sesuai dengan aturannya,” kata Romo Arie. Komunikasi dan kerja sama yang baik membuat umat mau belajar bagaimana berliturgi yang benar sesuai dengan aturan atau pedoman.

Selamat datang Romo Arie. Selamat bergabung dengan kami umat paroki Santo Cornelius Madiun. (ICA)