Category Archives: Warta Stasi

WAJAH BARU PAGAR GEREJA SANTA MARIA CARUBAN

pagar-caruban

Pada tanggal 19 Oktober tahun 2015 lalu pagar lama depan Gereja Santa Maria Caruban mulai dipugar. Pembangunan pagar ini adalah dari swadaya salah satu umat dari stasi. Pagar lama kondisinya sangat parah. Retakan ada disetiap sisi,  bahkan pagar nyaris roboh.

“DOA RUTIN SAFARI” STASI St. MARIA CARUBAN

berdoa

Awal tahun 2016 ini adalah sebuah tonggak baru bagi komunitas doa di Stasi Caruban, dengan mengadakan doa rutin safari di rumah-rumah umat diwilayah Stasi Caruban. Gagasan ini dikreasi oleh Seksi Liturgi bekerja sama dengan segenap Ketua Lingkungan. Dengan mempertimbangkan bahwa umat di Stasi Caruban wilayahnya berjauhan, serta intensitas berkomunio sangat terbatas, hanya pada Misa hari Minggu atau bila ada doa ujub tertentu. Maka lahirlah ide kreatif itu untuk mengapresiasi kerinduan umat akan wadah atau wahana yang luhur selain kegiatan rutin tersebut.

Doa rutin safari itu diselenggarakan dalam kurun 1 tahun dan dituangkan dalam jadwal resmi oleh gereja. Adapun jadwal itu bersifat fleksibel dan tidak mengikat. Bilamana ada salah satu umat berhalangan maka jadwal tersebut dapat diganti hari oleh seksi liturgi. Pelaksanaan doa rutin safari ini setiap hari Jumat minggu pertama dan ketiga. Jadwal itupun diupayakan tidak tubrukan dengan kegiatan yang sudah diagendakan gereja.

Visi dari kegiatan ini tak lain dan tak bukan adalah menyediakan wadah dan sarana untuk memperdalam iman dan juga meningkatkan intensitas bertemu diantara warga katolik di Stasi Caruban.

Yang lebih menarik dari kegiatan ini adalah setiap Ketua Lingkungan diberi kesempatan untuk berlatih memimpin doa. Hal ini juga tidak terlepas dari peran Seksi Liturgi dan sekaligus Asim yang memberikan renungan.

Dalam satu kegiatan ini minimal sudah melibatkan 4 komponen penting dalam stasi yaitu pertama ASIM. Kordinator Asim akan menyusun jadwal dari ke -3 Asim yang ada, siapa yang akan memberi renungan. Kedua Seksi Liturgi. Kordinator seksi ini akan menyiapkan susunan doa yang akan diampu oleh Ketua Lingkungan. Ketiga kordinator team koor. Kordinator koor ini akan bekerja sama dengan liturgi menyiapkan lagu – lagunya. Dan yang keempat Ketua Lingkungan. Ada sebuah kesepakatan tidak tertulis bahwa yang berhak memimpin doa tersebut adalah Ketua Lingkungan dimana umat yang berketempatan itu mendapat giliran, sehingga 4 komponen ini selalu berkordinasi dalam pelayanan.

Diharapkan bilamana Asim berhalangan hadir semua umat kelak akan bisa menggantikan beliau. Semoga ini menjadi inspirasi buah pikiran kita bersama. Tuhan memberkati. (TEO)

MAKNA “SEHAT “ MELALUI JALAN SANTAI STASI CARUBAN

bersih-bersih-caruban

Seiring bertambah usia Stasi Caruban, maka teriring pula bertambahnya kualitas dan kwantitas kegiatan di Stasi Santa Maria Caruban. Berbagai kegiatan tersusun dan terprogram melalui pengelolaan program tahunan yang dibimbing dari Paroki St. Cornelius Madiun, walaupun programnya disajikan dalam form yang amat sederhana, semua sekbid berupaya keras untuk mengaplikasikan dalam wujud nyata.

Pada setiap minggu ke 3, seperti yang telah direncanakan, Rd Boedi Prasetijo mengajak umat Stasi Santa Maria Caruban untuk bergabung dan berpartisipasi dalam kegiatan jalan santai. Kegiatan jalan santai ini dimulai pukul 05.00 wib, dengan rute yang tidak terlalu jauh dengan lingkungan gereja. Dengan harapan pada pelaksanaan misa kudus pada pukul 08.00 wib tidak terburu – buru. Sehingga masih ada jeda waktu untuk istirahat dan ngobrol sejenak dengan Romo. Koordinator kegiatan ini adalah bpk Sukardi dan bpk Giarto sekaligus pemandu Romo.

Setelah berlangsung beberapa kali diadakan jalan santai sehat, maka terlintas sebuah gagasan dari Romo Boedi untuk membuat aksi jalan santai ini lebih berdaya guna bukan hanya untuk pribadi masing – masing melainkan juga harus memikirkan kepentingan bersama. Diawali dengan pandangan dan pemikiran tersebut, Romo kita tercinta ini memberikan suri tauladan kepada semua umat yang berpartisipasi untuk mengambil sampah – sampah yang berserakan di sekitar alun – alun Kabupaten

Madiun. Semula tidak direncanakan. Sifatnya aksi nyata. Maka beramai – ramai pula umat memungut sampah-sampah tersebut dengan alat seadanya. Jadilah sekitar alun – alun Kabupaten Madiun nampak bersih dan indah kembali.

Kegiatan ini merefleksikan kepada kita semua bahwa dengan jalan santai kita bisa mendapatkan kualitas hidup sehat secara personal atau mandiri. Jalan sehat diisi karya lain menjadikan pikiran dan hati kita semakin sehat. Sehat bukan berarti secara harafiah saja melainkan sehat juga mengandung makna hidup bersih dalam kultur masyarakat. Jagalah kebersihan. Awalilah dari lingkungan diri kita sendiri. Niscaya hati dan pikiran kita juga sehat. (TEO)

MISA MALAM NATAL 2015 Stasi St. Vincentius A Paulo Jenangan

natal-jenangan

Misa malam Natal kali ini terasa sangat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Betapa tidak, banyak kejutan yang dialami umat stasi Jenangan ini. Misa yang direncanakan dimulai tepat pukul 18.00 WIB terpaksa mundur dan baru pukul 18.45 WIB bisa terlaksana. Hal ini terjadi karena kepadatan kendaraan sepanjang jalan antara Madiun – Surabaya yang mengakibatkan kemacetan panjang di sekitar Wilangan. Romo Ari beserta rombongan telah mengantisipasi hal ini dengan berangkat dari Madiun pukul 15.30. Umat yang gelisah mencoba melakukan koordinasi dan akan melakukan penjemputan dengan sepeda motor. Syukurlah disaat akan berangkat Romo menyatakan sudah terbebas dari kemacetan dan segera tiba.

Prosesi Misa diawali dari depan Goa Maria disamping Gereja menuju dalam Gereja. Umat yang mengular dibelakangnya tidak semuanya tertampung di kursi yang dipersiapkan. Banyak umat berdatangan dari luar kota karena bersamaan libur panjang.

Kentrung

kentrung

Bagi masyarakat di sekitar Jenangan, alat musik kentrung bukanlah sesuatu yang asing. Alat musik ini juga dikenal di beberapa daerah yang lain. Kentrung akhirnya diserap oleh umat Katolik St. Vinsensius a Paulo, Jenangan. Kentrung menjadi alat musik yang digunakan untuk mengiringi paduan suara rohani.

Satu set alat musik kentrung biasanya terdiri dari beberapa alat, yakni alat musik seperti angklung terbuat dari bambu yang cukup besar dipasang berdekatan, gamelan sederhana, kendang (seperti tifa yang terbuat dari pipa besar dan terbalut ban bekas). Begitulah secara sederhana gambaran dari alat musik kentrung. Alat musik ini juga dapat diperoleh dengan mengganti ongkos pembuatan. Beberapa umat dari luar kota juga sempat memesannya melalui pengurus stasi.